Aneh, Tak Habis Pikir

18 Desember 2008 pukul 5:38 am | Ditulis dalam Balada Anak Kampus | 5 Komentar

musykerDalam sebuah percaturan perpolitikan kampus, setiap “elemen” hampir pasti mempunyai keinginan kuat mampu menancapkan cengkraman “kuku-kukunya”, baik itu melewati lembaga internal kampus ataupun melewati pengkaderan “oposisi”. Tak terkecuali dalam hal ini adalah Komunitas Islami dengan jenggot tipis menghiasi janggutnya, dan “Jidah Ireng” tak mau kalah menjadi simbol komunitasnya. Begitu pula dengan kaum hawanya, jilbab lebar dengan potongan blues yang tak mau ketinggalan “mode” seakan menjadi simbol bagi Komunitas tersebut.

Dengan segenap idealisme yang tinggi berusaha mewujudkan Masyarakat Madani* yang dalam bahasa keseharian Masyarakat yang penuh dengan nilai-nilai keislaman (versi siapa?).

Ketika kondisi kader akhwat mengalami lonjakan yang sangat signifikan baik dari segi kualitas dan kuantitas, tetapi tidak diikuti jumlah kader ikhwan, maka mau tidak-mau akan terjadi ketimpangan dalam usaha menancapkan “hegemoni”nya.

Dalam sebuah pemilihan calon ketua sebuah Himpunan Mahasiswa, (tentunya melalui pemungutan suara), lantaran tidak adanya calon ikhwan yang mempunyai kapabilitas siap menerima tampuk kekuasaan, maka majulah seorang akhwat mencalonkan dirinya. Entah lantaran semangat dari dalam diri yang begitu membara, atau karena memang sudah di “proyeksikan” untuk menduduki jabatan tersebut.

Si akhwat (yang notebene dari komunitas ane-antum) bertarung habis-habisan dalam pemilihan tersebut dengan seorang calon laki-laki dari Komunitas “Lo-Gue”. Dalam akhir acara dimenangkan oleh Akhwat Super, tentunya dengan dukungan dari grass root nya.

Pada suatu ketika seorang akhi, dengan nada kalah keras dari si akhwat bergumam “Ini orang katanya mau memperjuangkan syariat hingga terbentuk masyarakat madani*, tapi kok Akhwat (baca : Perempuan) jadi pemimpin di sebuah organisasi yang anggotanya tidak hanya berasal dari kaumnya saja yach, lagian setahuku zaman Para Shahabat dan Ulama-Ulama Sholih lagi terpercaya tidak ada  yang menyerukan untuk beramai-ramai memilih calon si A atau si B untuk duduk di kursi kepemimpinan. Bahkan kebanyakan dari mereka menolak untuk diserahi jabatan. Lha Apakah dengan begitu masih layak disebut memperjuangkan syariat, padahal syariat yang ada dicampakkan begitu saja”.

Hmm, dunia sekarang memang membingungkan !.  Susah dan amat sedikit sekali orang mampu mengatakan hitam putihnya sebuah kebenaran dan cita-cita. Atau memang  seseorang telah dipaksa oleh keadaan sehingga terjerumus dalam abu-abu.

Mungkin dilain fihak, bisa jadi awalnya sebuah keterpaksaan mengambil jalan pintas (baca : abu-abu), tetapi tak selalu kondisi terpaksa akan senantiasa sama. Melihat kedudukan yang mentereng membuat manusia seakan LUPA akan kondisi terpaksanya, sehingga berusaha mencari dalih pembenaran atas apa yang diperbuatnya.

*Masyarakat Madani, sebuah istilah yang dipopulerkan oleh  salah satu tokoh pencetus JIL (Jamaah Iblis Liberal), yang hingga akhir hayatnya tidak mau bertobat, dan setahu penulis lebih mampu mencakup semua hal jika menggunakan istilah Masyarakat Islam

Iklan

5 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. IMHO, bakalan lebih menarik dan seru kalo Bolammedia berkenan melakukan wawancara eksklusif dengan si Akhwat Super ini.

  2. hehe,..
    mau daftar jadi wartawannya bung?

    *kiriman biodata selengkapnya ke alamat redaksi.
    paling lambat tahun baru hijriyah
    😀

  3. Hu’um….

    serba membingungkan…
    Siangnya gelap gulita bagai malamnya…

    “fa ‘alaykum bissunnatii wa sunnatu khulafaurrasyidin…” tampaknya tepat sekali kalo kita mengingat hadits rasulullah yang ini…

  4. yah kita doaken saja smoga akhwat kita yg satu itu sadar dan mau ngaca diri. btw kitapun mesti akui kehebatan dan sisi positip kawan2 kita yg gemar bermain lwt birokrasi itu. biar imbang gitu loh…Jd gak cuman nggerutu & ngerutuk. Kan salah ente jg, kenapa ente gak main disitu dengan cantik?

  5. @ segobadak : hmmm bua buku lagi yachhh.. hehe
    @ grudak gruduk : yuupp semoga tulisan ini bukan sebagai “palu” tetapi sebagai cermin bagi kita bersama.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: