Nostalgia kanak-kanak

5 Februari 2009 pukul 9:42 am | Ditulis dalam Mutiara Hikmah | 3 Komentar

Masa kecil merupakan masa yang indah penuh kenangan. Anak kecil yang nduwe polah tingkah yang semau gue. Tidak pernah ada yang menghukum. Masa anak-anak merupakan masa layaknya seorang raja yang berhak berkehendak semaunya. Tetapi, pernahkah kita teringat pula akan kebaikan semasa masih kanak-kanak?. Terkenang dengan jaman sewaktu masih belajar TPA. Belajara mengeja huruf hijaiyah. Alif, ba, ta tsa hingga ya’. Begitulah kiranya ketika dahulu orang tua menitipkan kita kepada ustasdz TPA agar mengajari kita membaca Al Quran.

Kini usia kita udah remaja menginjak dewasa. Masihkah kita melanjutkan pelajaran belajar membaca Al Quran dengan metode Iqra atau metode Qira’atiy hingga selesai materinya. Jika saat itu kita udah dinyatakan lulus dengan rentetan upacara wisuda kelulusan dan penglepasan dari madrasah diniyah, masihkah saat ini kita mengingat cara membaca Al Quran sebagaimana yang telah kita pelajari semasa kecil?. Ataukah lantaran kesibukan kita sebagai seorang pelajar, sebagai seorang mahasiswa, atau sebagai seorang wirausahawan muda tidak lagi mempunyai waktu luang untuk sekedar menengok dan membolak-balik Al Quran?. Atau bahkan lantaran udah sekian lama tidak bersilaturahim dengan Al Quran hingga kita lupa bacaannya dengan tartil dan benar, mana bacaan mat thobiI, mana bacaan gunnah, mana bacaan idgham, ataupun iqlab. Disibukkan dengan kegiatan organisasi sekolah atau Kampus.

Memang, hidup sesusi dengan kehendak diri sendiri yang terasa bebas tanpa aturan yang mengikat terasa senang dan menggembirakan. Tetapi bukankah terasa hampa?. Seperti ada sesuatu yang hilang. “Dan barang siapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sungguh baginya kehidupan yang sempitdan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta Q.S Thaha : 124“. Masihkah sisa-sisa sepenggal pengalaman sewaktu nyantri di TPA tetap membekas hingga sekarang?

Mari sesekali mengalihkan pandangan ke arah Masjid, dimana dulu semasa kecil begitu bergembira lantaran banyak teman-teman ngaji mengeja alif bengkong. Betapa suka citanya ketika memasuki bulan Ramadhan, setiap hari begitu riang melangkahkan kaki ke masjid menghadiri shalat tarawih. Terlebih begitu sangat bahagia memasuki hari Raya. Masihkah ingat akan nostalgia penuh ibadah tersebut? (rijal)

Iklan

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Andai ada yg mo mengajarkan TPA online, saya pasti yg daftar pertama kali :).

  2. Masjid Pangeran Diponegoro wae ah,,, 🙂

  3. @ neubee_saliha : lewat YM yach?? 😀
    @ segobadak : ikut GSM???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: