Hanya Soal Penampilan

14 April 2009 pukul 8:44 am | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Hanya Soal Penampilan

Oleh Burhan Sodiq

Pernah dalam sebuah kesempatan, saya bergabung dengan sebuah training kepenulisan. Seperti layaknya seorang peserta, saya duduk di barisan pertama, datangnya pertama pula. Kemudian datang peserta yang lainnya, dan membuka percakapan dengan saya. Di awal perkenalan itu, tiba-tiba ada sebuah pertanyaan kepada saya, “Bapak dari partai itu ya?” Teman baru saya itu menduga saya adalah bagian dari sebuah partai dakwah tertentu. Saya pun hanya tersenyum dan kemudian berkata, “Bukan kok.”

Pada kesempatan yang lain, saya pernah diundang ke sebuah acara workshop pengembangan diri. Kali ini saya diundang sebagai pembicara dan bukan sebagai peserta. Selama menunggu acara, seorang ikhwan mengajak saya ngobrol banyak. Dari mulai hal-hal sepele hingga strategi dakwah di kampus. Nah, di sesi ini, saya diberikan informasi-informasi rahasia sebuah gerakan dakwah harakah tertentu. Ikhwan itu berpikir saya adalah bagian dari mereka. Sehingga semua informasi diberitahukan ke saya. Dari mulai strategi global hingga strategi detail.

Hingga kini saya pun masih bertanya-tanya, kenapa ya mereka melakukan itu? Saya pun kemudian berpikir mungkin karena penampilan saya. Karena sampai hari ini orang selalu melihat dari segi penampilan saja. Bahkan dari sebuah penampilan, seseorang langsung dipetakan sebagai anggota gerakan Islam tertentu. Misalnya saja, ketika ada seorang yang gemar memakai gamis panjang serba putih, memakai kopiah haji putih dan jenggotnya panjang menjuntai, setiap kali ngomong selalu masalah aqidah dan sering bicara bid’ah, maka orang dengan stereotype seperti ini langsung dipetakan sebagai kelompok X.

Berbeda lagi dengan seseorang yang terlihat necis, pakaian rapi ala eksekutif muda, baju dimasukkan dan memakai ikat pinggang. Celana kegombrangan hingga mungkin menutup mata kaki. Setiap kali bicara selalu menyinggung masalah partai, demokrasi dan HAM yang dilabeli Islam. Maka orang dengan typikal ini langsung dipetakan sebagai kelompok dakwah tertentu juga.

Berbeda lagi dengan mereka yang memakai peci ala Taliban, berpakaian baju koko biasa, celana di atas mata kaki dan juga berjenggot. Apa yang dibicarakan selalu pada soal jihad, jihad dan jihad. Maka orang dengan ciri ini juga akan segera dipetakan sebagai kelompok Islam tertentu.

Lalu apa yang akan terjadi jika stereotype ini tidak bisa lagi sebagai patokan. Bergamis tetapi suka ngomong demokrasi, atau bertampang necis tapi suka bicara jihad, atau malah bertampang mujahidin tetapi malah suka membid’ahkan orang lain? Saya pun tidak bisa menjawabnya. Karena penampilan memang bukan sebuah jaminan. Fikrah hanya bisa dilihat pada saat berdialog dan beradu argumen, sedangkan penampilan bisa saja berbeda dengan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Hmm.., semoga setelah membaca tulisan ini, sobat tidak penasaran, penampilan saya seperti apa.

Iklan

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Insya Allah berkah,,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: