Ana, Antum, Anti, Akhi, Ukhti…

25 Desember 2008 pukul 3:07 am | Ditulis dalam Balada Anak Kampus | 5 Komentar

Suatu ketika, seorang Mahasiswa yang gemar mengadakan acara-acara keIslaman di kampus berbincang dengan saya :

“Maz, kenapa yaa, saya kok belum sreg untuk memanggil ikhwan-ikhwan dan akhwat-akhwat semua dengan panggilan yang lebih Islami. Saya lebih suka memanggil dengan panggilan sampeyan, njenengan, mas A, mbak B dari pada memanggil antum, ana, akhi, ukhti, anti. Bagi saya panggilan seperti kang bisa lebih membuat akrab dalam perbincangan. Apakah ada yang salah dengan diri saya?. Apa memang lidah saya belum terbiasa dengan panggilan dengan bahasa arab tersebut?”

Dilain waktu, seorang ketua Rohis sebuah Fakultas Perguruan Tinggi Negeri di Semarang pernah berucap pada saya ketika awal-awal saya menjadi mahasiwa.

“Mungkin antum belum terbiasa dengan panggilan ana, antum, akhi, ukhti, anti tetapi dengan bergabung di Rohis Insya Allah nanti akan terbiasa dengan panggilan-panggilan seperti itu. Karena memang kita lebih sering menggunakan panggilan tersebut agar jalinan ukhuwah bisa lebih erat lagi”.

Geliat dakwah yang semakin menggeliat membuat panggilan untuk saudara kita harus hijrah kepada kosa kata arab. Seakan panggilan ana, anti, antum , akhi, ukhti menjadi keharusan bagi seorang aktivis. Panggilan tersebut memang awalnya didesain agar jalinan ukhuwah diantara pegiat dakwah semakin lengket.

Dalam perkembangannya, muncul sebuah kesan baru bahwa panggilan ana, anti, antum , akhi, ukhti seakan menjadi jarak pemisah antara kalangan pegiat dakwah dengan kalangan mahasiswa umum. Sehingga terkadang muncul stigma anak-anak rohis khan memanggilnya dengan ana, antum, akhi, ukhti, lha saya memanggil sesama muslim dengan njenengan, sampeyan, kowe, aku, maka tak pantas bagi saya masuk rohis.

Bahkan dalam penggunaannya terjadi perubahan makna, panggilan ikhwan dan akhwat terkadang dikhususkan untuk kalangan tertentu, yang mempunyai pemahaman yang sama. Padahal dari asal muasal kata tersebut berarti saudara laki-laki (ikhwan) dan saudara perempuan (akhwat).

So, jika memang tujuan awal penggunaan istilah akhi, ukhti, antum, anti memang lebih bisa mengakrabkan dan menjalin ukhuwah, maka silahkan dilanjut. Dan disisi lain, bagi yang sudah merasa nyaman dengan penggunaan jenengan, sampeyan, kang, mbak, kowe, aku tak ada salahnya untuk dilanjutkan bila dengan penggunaan bahasa tersebut lebih bisa menjalin ukhuwah. Karena memang halus dan kasarnya bahasa masing-masing daerah berbeda-beda.

Dan yang paling penting tidak ada diskriminasi dan permbedaaan status seseorang dari orang-orang yang memanggil dengan panggilan akhi, ukhti, antum, anti kepada orang-orang yang tetap dengan panggilan jenengan, sampeyan, kang, mbak, kowe, aku. Toh status seorang muslim tidak diukur dari simbol yang dikenakannya, termasuk juga simbol bahasa dalam hal ini. Tetapi diukur dari derajad ketaqwaannya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla

oleh

zon’s


Mahasiswa dan Idealisme Intelektual

24 Desember 2008 pukul 7:39 am | Ditulis dalam Balada Anak Kampus | 1 Komentar

mahasiswaDalam beberapa kesempatan, Mahasiswa mempunyai andil yang besar dalam menentukan arah kebijakan publik. Secara kasat mata, rezim Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun harus bertekuk lutut lantaran mahasiswa turun ke jalan. Begitu pula ketika UU BHP akan (dan telah) disahkan oleh DPR, mahasiswa pun tak kalah agresif dalam menolaknya. Kisah heroisme mahasiswa sebagai pengontrol kebijakan publik pastilah masih memiliki kisah yang cukup panjang untuk disimak.

Kiranya posisi Mahasiswa bagi kalangan masyarakat masih menjadi simbol intelektualitas muda yang diharapkan menjadi tulang punggung kehidupan masa depan. Terlebih lagi bagi kalangan Mahasiswa muslim yang dipundaknyalah risalah penegakan dienullah akan diembankan.

Pada banyak kesempatan penulis menjumpai mehasiswa yang telah kehilangan identitas intelektualitasnya. Salah satunya adalah budaya membaca dan menulis. Praktis, mahasiswa lebih berorientasi pada nilai mid semester ataupun ujian semester. Tugas menyusun makalah yang seharusnya dikerjakan dengan menggunakan telaah, hanya modal copy-paste dari teman kuliah atau dari artikel di internet tanpa telaah lebih jauh.

Terlebih lagi jika menilik kondisi mahasiswa di beberapa perguruan tinggi negeri di Indonesia wabil khusus mahasiswa muslim. Berapa banyak diantara mereka yang ketika berbicara hanya asal ngomong tanpa didasari oleh rujukan yang jelas. Sehingga tak sulit menjumpai mahasiswa yang pandai ketika sambil memegang buku, ketika jauh dari buku tak ubahnya hanya sebuah parodi saja.

Begitu pula ketika dalam perbincangan dan ngerumpi keseharian sesama mahasiswa (dan sesama jurusan). Berapa banyak diantara mereka yang memperbincangkan tentang kuliah dan tugas-tugasnya. Kebanyakan pastilah akan memperbincangkan pasangan (baca : pacar), atau bagi yang masih jomblo akan memperbincangkan target operasi. Perbincangan tidak akan jauh dari cewek (bagi cowok) dan begitu pula sebaliknya. Ngerumpi masalah target penembakan memang lebh asyik dan menyenangkan daripada ngerumpi masalah kuliah yang dosennya killer, suka ngasih nilai pelit.

Memang terlalu przgmatis menjeneralisir, tetapi memang hanya sedikit mahasiswa yang membunyai konsep perubahan bagi kehidupan. Kiranya mampu dihitung dengan jari dalam satu jurusan, mahasiswa yang mempunyai konsep perubahan menjadi lebih Islami dan manusiawi dalam kehidupan.

Beberapa waktu lalu, penulis berbincang-bincang dengan seorang mahsiswa asal Jakarta yang menempuh jenjang kuliah di Semarang dan mengambil sebuah jurusan di Fakultas FISIP. Harapan awal begitu menggunung terkait idealisme sebuah komunitas dan iklim belajar yang kondusif. Tetapi ketika baru memasuki akhir semester pertama, ternyata sang mahasiswa begitu takjub mendapati realita yang sangat jauh dari persepsi awal yang ada dalam benaknya. Kondisi mahasiswa yang sangat hedonisme, jauh dari nilai-nilai Islami yang ada dalam benaknya. Harapan awal agar mampu menjadi Mahasiswa yang nyantri tinggallah harapan.

Begitu banyak tangan-tangan yang ikut ambil bagian dalam membentuk pribadi seorang mahasiswa. Akhirnya dengan sebuah asa tersisa dalam diri sanubarinya, sang mahasiswa tersebut berusaha semampunya membendung arus hedonisme dan individualime yang begitu menggurita bak cendawan di musim penghujan. Seorang diri yang mencurahkan tenaganya ibarat melawan arus yang tumbuh subur.

oleh

zon’s

gambar dari sini

Aneh, Tak Habis Pikir

18 Desember 2008 pukul 5:38 am | Ditulis dalam Balada Anak Kampus | 5 Komentar

musykerDalam sebuah percaturan perpolitikan kampus, setiap “elemen” hampir pasti mempunyai keinginan kuat mampu menancapkan cengkraman “kuku-kukunya”, baik itu melewati lembaga internal kampus ataupun melewati pengkaderan “oposisi”. Tak terkecuali dalam hal ini adalah Komunitas Islami dengan jenggot tipis menghiasi janggutnya, dan “Jidah Ireng” tak mau kalah menjadi simbol komunitasnya. Begitu pula dengan kaum hawanya, jilbab lebar dengan potongan blues yang tak mau ketinggalan “mode” seakan menjadi simbol bagi Komunitas tersebut.

Dengan segenap idealisme yang tinggi berusaha mewujudkan Masyarakat Madani* yang dalam bahasa keseharian Masyarakat yang penuh dengan nilai-nilai keislaman (versi siapa?).

Ketika kondisi kader akhwat mengalami lonjakan yang sangat signifikan baik dari segi kualitas dan kuantitas, tetapi tidak diikuti jumlah kader ikhwan, maka mau tidak-mau akan terjadi ketimpangan dalam usaha menancapkan “hegemoni”nya.

Dalam sebuah pemilihan calon ketua sebuah Himpunan Mahasiswa, (tentunya melalui pemungutan suara), lantaran tidak adanya calon ikhwan yang mempunyai kapabilitas siap menerima tampuk kekuasaan, maka majulah seorang akhwat mencalonkan dirinya. Entah lantaran semangat dari dalam diri yang begitu membara, atau karena memang sudah di “proyeksikan” untuk menduduki jabatan tersebut.

Si akhwat (yang notebene dari komunitas ane-antum) bertarung habis-habisan dalam pemilihan tersebut dengan seorang calon laki-laki dari Komunitas “Lo-Gue”. Dalam akhir acara dimenangkan oleh Akhwat Super, tentunya dengan dukungan dari grass root nya.

Pada suatu ketika seorang akhi, dengan nada kalah keras dari si akhwat bergumam “Ini orang katanya mau memperjuangkan syariat hingga terbentuk masyarakat madani*, tapi kok Akhwat (baca : Perempuan) jadi pemimpin di sebuah organisasi yang anggotanya tidak hanya berasal dari kaumnya saja yach, lagian setahuku zaman Para Shahabat dan Ulama-Ulama Sholih lagi terpercaya tidak ada  yang menyerukan untuk beramai-ramai memilih calon si A atau si B untuk duduk di kursi kepemimpinan. Bahkan kebanyakan dari mereka menolak untuk diserahi jabatan. Lha Apakah dengan begitu masih layak disebut memperjuangkan syariat, padahal syariat yang ada dicampakkan begitu saja”.

Hmm, dunia sekarang memang membingungkan !.  Susah dan amat sedikit sekali orang mampu mengatakan hitam putihnya sebuah kebenaran dan cita-cita. Atau memang  seseorang telah dipaksa oleh keadaan sehingga terjerumus dalam abu-abu.

Mungkin dilain fihak, bisa jadi awalnya sebuah keterpaksaan mengambil jalan pintas (baca : abu-abu), tetapi tak selalu kondisi terpaksa akan senantiasa sama. Melihat kedudukan yang mentereng membuat manusia seakan LUPA akan kondisi terpaksanya, sehingga berusaha mencari dalih pembenaran atas apa yang diperbuatnya.

*Masyarakat Madani, sebuah istilah yang dipopulerkan oleh  salah satu tokoh pencetus JIL (Jamaah Iblis Liberal), yang hingga akhir hayatnya tidak mau bertobat, dan setahu penulis lebih mampu mencakup semua hal jika menggunakan istilah Masyarakat Islam

Sadar Sedang Terpuruk

16 Desember 2008 pukul 1:35 am | Ditulis dalam Balada Anak Kampus | 2 Komentar

lesu

Dalam sebuah perbincangan dengan seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang seputar kuliah dengan tugas-tugasnya yang menumpuk hingga urusan ibadahnya yang kadang terkendala kuliah sampai sebuah pertanyaan yang dilontarkan kepada saya,
“Mas, Gimana yach di kampus ini, jika benar-benar saya amati semakian lama kehidupan ruhani saya semakin amburadul setelah beberapa waktu jadi mahasiswa. Kost di lingkungan yang kurang Islami, yang sering didengarkan musik-musik aliran keras, bahkan untuk urusan sholat jama’ah di masjid pun tidak menjadi prioritas dalam hidup orang-orangnya. Apalagi untuk urusan saling mengingatkan untuk dakwah, untuk bangun sholat malam dan lain sebagainya. Mau langsung keluar dari kost, sudah terlanjur saya bayar kost selama setahun, dan belum tentu langsung dapat tempat kost yang kondusif. Akhirnya beberapa hal yang harus saya korbankan, mulai jarang tilawah Al Qur’an, mulai lupa dengan teman-teman pengajian. Seakan hampir setiap hari aktivitas disibukkan dengan 3K, Kampus, Kost dan Kantin. Jika hal ini terus menerus terjadi lama-kelamaan mungkin saya akan ikut-ikutan ber “ajojing” dengan mahasiswa, atau bahkan masuk dalam pergaulan bebas. Gimana ini mas?”

Jika mau melihat kondisi masing-masing diri kita secara lebih seksama, barangkali hampir kebanyakan diantar kita mengalami hal serupa dengan teman kita mahasiswa di atas, hanya dalam kontek riil agak berbeda. Tinggal dalam lingkungan yang kurang Islami, sehingga tidak mampu mem-Back Up ruhiyah. Berapa banyak sebetulnya jika masing-masing antara kita bersedia jujur pada hati nurani, bahwa terkadang tanpa disadari terbawa oleh sebuah arus yang semakin lama semakin menenggelamkan dalam rutinitas duniawi hingga melupakan ruhiyah. Sebuah seasana hati yang akan memberikan sentikan energi berlimpah untuk melakukan aktivitas keseharian.

Pernah pula suatu ketika dalam sebuah perbincangan, seorang mahasiswa berucap, “Jika tadi malam saya bangun untuk melaksanakan sholat malam, maka ketika habis subuh langsung melakukan aktivitas, seakan di pagi tersebut langit begitu cerah dan sangat menggembirakan hari tersebut. walaupun tugas laporan praktikum belum dikerjakan padahal waktu tinggal 1 jam untuk menulis sekitar 10-15 lembar halaman folio, tetapi perasaan santai dan tenang serta yakin bahwa semua akan dapat terselesaikan membuat optimis dalam hari tersebut. Tetapi berbeda halnya jika suatu hari tidak mampu bangun malam untuk sholat malam, atau bahkan bangun kesiangan, seakan hari tersebut begitu sempit dan sesak. Tak ada gairah untuk menjalani hidup di hari tersebut. Menjalani kuliah sesara disiksa, dan takut ketika bersama dosen killer”

Pada kondisi tersebut, kita membutuhkan Hidayah Taufik, sebuah Semangad dan Tekad yang kuat dari dalam hati dan sanubari untuk bangkit dari keterpurukan ruhani. Bukan lagi Hidayah Ilmu, toh sebetulnya kebanyakan dari kita sudah faham dan sering mendengar tentang keutamaan sholat jama’ah ataupun keutamaan sholat malam, tetapi dorongan semangat untuk mengamalkannya yang perlu senentiasa dipupuk dan disemai.

Jika belum cukup kuat untuk menyemai benih hidayah Taufiq seorang diri, maka bisa dilakukan dengan silaturahim kepada ustadz atau orang sholih. Terkadang hanya mendengar sepatah kata dari seorang ustadz yang begitu wara’ mampu mengalahkan “ocehan” nasehat yang diberikan oleh orang-orang yang kurang benar-benar melazimi apa yang diucapkannya.

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.