PACARAN? ENGAK LAH YAUW

27 April 2009 pukul 12:30 am | Ditulis dalam Seputar VMJ | 6 Komentar

“Pacaran” adalah suatu kata yang tidak asing lagi kita dengar di kalangan remaja. Sebetulnya apa yang disebut dengan “pacaran” itu? Betulkah di dalam Islam ada yang namanya pacaran?

Pacaran diartikan sebagai suatu tali kasih sayang yang terjalin atas dasar saling menyukai antara lawan jenis. Apabila kita lihat secara sepintas dari definisi diatas mungkin dapat disimpulkan bahwa pacaran itu merupakan suatu yang wajar dilakukan dikalangan remaja. Padahal apabila kita tinjau dari sudut agama Islam, dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits ternyata tidak ada satu kalimatpun yang menjelaskan tentang pacaran.

Dalam Islam hanya ada khitbah (tunangan). Tapi khan tidak mungkin kita tunangan tanpa mengenal pribadi calon kita?. Tidak seperti itu, sebelum terjadi khitbah, di dalam Islam dianjurkan untuk berta’aruf (berkenalan) itupun kalau seandainya kita siap untuk nikah. Sebenarnya rugi kalau seandainya pacar kita itu bukan jodoh yang Allah SWT takdirkan untuk kita. Padahal kita sudah berkorban.
Sedikit kisah di zaman dulu, hidup seorang lelaki yang mencari cinta, namanya Arjuna. Saking ngebetnya, gunung tertinggi didaki, isi bumi dijelajahi, lautan pun diarungi, cuma untuk mencari tempat berlabuh, yaitu wanita. Gilee beneer… Nih Arjuna, kagak peduli gunung, bumi, lautan, alam semesta ini punya siapa, maen grasak-grusuk aja! Di setiap tempat Arjuna berkata, “Wahai wanita, cintailah aku.” Ih… nih anak, malu-maluin ya! Masa’ sih sampe’ gitu-gitu banget, ya…namanya juga pencari cinta!
Di kisah yang lain, seorang laki-laki yang bernama Ibrahim pun mencari cinta. Saat malam mulai menyapa alam, tampak sebuah bintang, tak lama kemudian sang bintang pun tenggelam. “Aku tak menyukai yang tenggelam,” kata Ibrahim. Beberapa saat kemudian, terbitlah sang rembulan, bersinar indah penuh kelembutan. Namun, bulan pun hanya sesaat, tersipu malu dengan keindahannya. Semburat cahaya subuh pun menyeruak kegelapan, kokok ayam jantan membelah tetesan embun pagi, tak lama keperkasaan mentari mewayungi jagat raya ini, “Inikah dia yang kucari?” tanya beliau pula. Bukan…bukan itu, karena mentari pun bersujud, lalu merunduk sembunyi.
Kisah di atas adalah gambaran dari dua manusia si pencari cinta. Di dunia ini, betapa banyak orang-orang yang mencari cinta. Namun jelas ada bedanya disini, antara laki-laki yang bernama Arjuna dengan Ibrahim a.s., yang namanya termaktub indah di lembaran suci Al Qur’an. Arjuna mencari cintanya tanpa tedeng aling-aling, gak peduli sana-sini, jumpalitan, cuma mencari cinta wanita. Emangnya salah si Arjuna, karena mencari cinta? Ih…jangan protes dulu dong, emang sih fitrah manusia itu ya pasti merasakan cinta
“Dijadikan indah pada(pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu wanita-wanita,anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas , perak, kuda pilihan, binatng-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia, dan disisi Alloh-lah tempat kembali yang baik (surga)”(QS Al Imran: 14). Tapi apa iya harus seperti itu? Masa’ sih akal, nalar dan fikiran sampe’ gak jalan, bahkan hingga melebihi cinta-Nya! Waduh…

Padahal banyak kisah cinta sejati di dunia ini lho, salah satunya adalah cinta Ibrahim yang tak pernah pudar, setelah ia mengenal dan mengetahui siapa yang patut menerima cintanya. Beliau mengenal, dan kemudian sayang, lantas jatuh hati kepada Sang Pencipta. Karena itu yang dicintai pun berkenan menyambut cintanya, bahkan menjadikannya sebagai khalilullah [QS An Nisaa’: 125].
Cinta disini bukan cinta yang penuh kepalsuan, emosi apalagi birahi, namun cinta laksana mutiara yang memancarkan cintanya pada Rabb seluruh jagat raya ini, mengaliri denyut nadi, helaan nafas serta aliran butir darah untuk tunduk dan patuh pada perintah-Nya. Cinta ini mestinya menempati prioritas utama pada diri seorang muslim, yakni cinta kepada Allah SWT, Rasul dan jihad di jalan-Nya. Inilah cinta hakiki!

Untuk itu, marilah kita sama-sama untuk menghindari yang namanya pacaran itu. Karena kasih sayang tidak harus diungkapkan kepada seseorang saja, tetapi kepada siapa saja. Apabila kita melakukan suatu perbuatan yang dilarang oleh agama, maka kita akan berdosa. Begitu juga pacaran, apabila kita melakukan apa yang disebut dengan pacaran, maka kita akan berdosa pula. Na’udzubillaahi min dzalik.

Untuk menghindari semua itu ada beberapa tips antara lain :
1. Menundukan pandangan.
“Firman Allah dalam QS An-Nuur : 31 mewajibkan kita untuk menundukkan pandangan. Sabda Rasul : “Pandangan itu merupakan salah satu panah iblis.”
2. Jangan berduaan dengan lawan jenis.
“Janganlah kamu pergi berduaan dengan lawan jenismu, sebab yang ketiganya adalah setan.”
3. Memperbanyak shaum sunat
Hal ini dimaksudkan agar kita selalu dapat menjaga pandangan dan menahan hawa nafsu.

Cobalah tiada lain suatu amalan yang dicintai Allah, sesungguhnya Allah akan jauh lebih mencintai kita. Carilah amalan yang disukai Allah, setelah kita tahu bahwa dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran, cobalah untuk membatasi diri dalam hal itu. Ingatlah bahwa jangankan berpacaran, mendekatinya saja kita sudah tidak boleh. Firman Allah “Janganlah kamu dekati zina”.
Kita tidak bisa menjaga pandangan dari yang tidak halal berarti kita sudah zina mata. Begitupun dengan pendengaran, pembicaraan, hati, bila tidak kita jaga dari perbuatan yang mendekati zina, berarti kita sudah berzina. Na’udzubillaahi min dzalik.

*tulisan kiriman dari bang ande2lumut

Iklan

‘Cinta’ Tanpa Logika

22 Desember 2008 pukul 1:33 am | Ditulis dalam Seputar VMJ | 9 Komentar

loveheart

Cinta menuntut cemburu. Tanpa cemburu seakan cinta yang ada hanyalah OMDO. Lantaran cinta dan cemburu, seorang manusia tega membunuh wanita yang dicintainya. Sebagaimana sebuah kabar yang membuat saya takjub “mlongo”. Seorang mahasiwa membunuh pacarnya lantaran cemburu dan sakit hati. Karena cinta pula seorang manusia akan senantiasa awet muda, (baca : mati muda). Lantaran cinta pula asa cita-cita hanya sampai di penjara.

Sepenggal kisah yang mengajarkan tentang cinta salah jalan yang diperankan dengan sangat tragis oleh aktor mahasiswa, sebuah elemen masyarakat yang digadang-gadang memiliki tingkat intelektual yang tinggi sehingga mampu menggunakan akal warasnya ketika hendak melakukan sesuatu.

Tetapi ternyata sang pemain tidak lagi mengindahkan skenario dari Sang Sutradara Agung tentang jalan meretas asa cinta. Sang pemain lebih suka menggunakan skenario pilihannya sendiri, suka dan mencintai wanita yang cakep, (tanpa) melihat dari timbangan dien dan memilih menggunakan alur yang dituntunkan oleh Syetan dan Hawa Nafsunya.

Betapa banyak kalangan intelektual muda yang menggunakan akalnya hanya untuk urusan akademis, tetapi menggunakan hawa nafsunya ketika merambah dunia “cinta”. Memiliki pacar seakan manjadi komoditas yang sangat pantas disandang oleh intelektual muda tersebut. Bukan berarti mencintai harus dengan logika tanpa perasaan dan emosi, toh hakekatnya perasaan dan emosi terkadang tidak sejalan dengan akal sehat manusia. Jika perasaan dan emosi yang berbicara maka tertutuplah pancaran akal sehat manusia.

Jalan mencari dan menyalurkan hasrat cinta terkadang membawa manusia pada jalan berliku tanpa logika. Begitu pula ketika cinta diejawantahkan dengan jalan berdua-duaan dengan sang pacar, hingga terjadilah hal yang dikhawatirkan (baca perzinaan) atau hal-hal yang mendekatinya. begitu pula cerita pembunuhan lantaran berawal dari cinta. Maka dimanakah letak akal sehat intelektual muda yang didamba masyarakat secara umum?. Jika jalan meretas cinta lebih memilih tanpa logika dan mengekor nafsunya silahkan bersiap diri dengan memanen Cinta tanpa logika berbuah neraka

oleh

zon’s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.