Maen Futsal Yuuk…

16 Desember 2008 pukul 10:00 am | Ditulis dalam Agenda Kegiatan | 17 Komentar

futsalDisamping mengadakan acara keIslaman, kru Bolam juga gemar berolah raga. Tuh bisa dilihat dari postur tubuh desainer bolam yang Kuat dan Kekar, mirip orang sangar, *walaupun badan agak melar 😀

bagi segenap warga mahasiswa (dan kawula muda) bisa joint di acara futsal tiap hari sabtu pagi, kumpul di salah satu base camp bolam, MPD.

Syaratnya mudah kok :

1. Laki-Laki (wajib ‘ain loh)

2. Muslim

3. Memakai pakaian Olah raga, bukan pakaian batik (*tuing-tuing)

4. Tidak sedang mengidap penyakit berbahaya, gangguan pernafasan, jantung atau bahkan penyakit mematikan Aqidah macam SIPILIS.

5. Menyediakan iuran kas (*nyewa studium futsal euy)

6. Tidak memakai sandal jepit 🙂

so, buktikan kawula muda muslim fisiknya juga OK dengan sering olahraga, buruan joint with us

** promosi banged yach

Sadar Sedang Terpuruk

16 Desember 2008 pukul 1:35 am | Ditulis dalam Balada Anak Kampus | 2 Komentar

lesu

Dalam sebuah perbincangan dengan seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang seputar kuliah dengan tugas-tugasnya yang menumpuk hingga urusan ibadahnya yang kadang terkendala kuliah sampai sebuah pertanyaan yang dilontarkan kepada saya,
“Mas, Gimana yach di kampus ini, jika benar-benar saya amati semakian lama kehidupan ruhani saya semakin amburadul setelah beberapa waktu jadi mahasiswa. Kost di lingkungan yang kurang Islami, yang sering didengarkan musik-musik aliran keras, bahkan untuk urusan sholat jama’ah di masjid pun tidak menjadi prioritas dalam hidup orang-orangnya. Apalagi untuk urusan saling mengingatkan untuk dakwah, untuk bangun sholat malam dan lain sebagainya. Mau langsung keluar dari kost, sudah terlanjur saya bayar kost selama setahun, dan belum tentu langsung dapat tempat kost yang kondusif. Akhirnya beberapa hal yang harus saya korbankan, mulai jarang tilawah Al Qur’an, mulai lupa dengan teman-teman pengajian. Seakan hampir setiap hari aktivitas disibukkan dengan 3K, Kampus, Kost dan Kantin. Jika hal ini terus menerus terjadi lama-kelamaan mungkin saya akan ikut-ikutan ber “ajojing” dengan mahasiswa, atau bahkan masuk dalam pergaulan bebas. Gimana ini mas?”

Jika mau melihat kondisi masing-masing diri kita secara lebih seksama, barangkali hampir kebanyakan diantar kita mengalami hal serupa dengan teman kita mahasiswa di atas, hanya dalam kontek riil agak berbeda. Tinggal dalam lingkungan yang kurang Islami, sehingga tidak mampu mem-Back Up ruhiyah. Berapa banyak sebetulnya jika masing-masing antara kita bersedia jujur pada hati nurani, bahwa terkadang tanpa disadari terbawa oleh sebuah arus yang semakin lama semakin menenggelamkan dalam rutinitas duniawi hingga melupakan ruhiyah. Sebuah seasana hati yang akan memberikan sentikan energi berlimpah untuk melakukan aktivitas keseharian.

Pernah pula suatu ketika dalam sebuah perbincangan, seorang mahasiswa berucap, “Jika tadi malam saya bangun untuk melaksanakan sholat malam, maka ketika habis subuh langsung melakukan aktivitas, seakan di pagi tersebut langit begitu cerah dan sangat menggembirakan hari tersebut. walaupun tugas laporan praktikum belum dikerjakan padahal waktu tinggal 1 jam untuk menulis sekitar 10-15 lembar halaman folio, tetapi perasaan santai dan tenang serta yakin bahwa semua akan dapat terselesaikan membuat optimis dalam hari tersebut. Tetapi berbeda halnya jika suatu hari tidak mampu bangun malam untuk sholat malam, atau bahkan bangun kesiangan, seakan hari tersebut begitu sempit dan sesak. Tak ada gairah untuk menjalani hidup di hari tersebut. Menjalani kuliah sesara disiksa, dan takut ketika bersama dosen killer”

Pada kondisi tersebut, kita membutuhkan Hidayah Taufik, sebuah Semangad dan Tekad yang kuat dari dalam hati dan sanubari untuk bangkit dari keterpurukan ruhani. Bukan lagi Hidayah Ilmu, toh sebetulnya kebanyakan dari kita sudah faham dan sering mendengar tentang keutamaan sholat jama’ah ataupun keutamaan sholat malam, tetapi dorongan semangat untuk mengamalkannya yang perlu senentiasa dipupuk dan disemai.

Jika belum cukup kuat untuk menyemai benih hidayah Taufiq seorang diri, maka bisa dilakukan dengan silaturahim kepada ustadz atau orang sholih. Terkadang hanya mendengar sepatah kata dari seorang ustadz yang begitu wara’ mampu mengalahkan “ocehan” nasehat yang diberikan oleh orang-orang yang kurang benar-benar melazimi apa yang diucapkannya.

« Laman Sebelumnya

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.